Puisi Musa yang Membelah Gelombang

 Puisi M. Raudah Jambak

(Medan, Sumatera Utara)
Musa yang Membelah Gelombang

Ke mana lagi musa pergi, selain membelah gelombang
dengan tongkat sakti
di sini tsunami angkuh berdiri menebar duri,

bersama angin
yang memburu mengekalkan seringainya
dalam bayang-bayang kabut
serombongan gagak memburu camar yang terbang
gontai, perlahan mengintai
sementara pepohonan tafakur, mengucap syukur
lalu membanjiri derail zikir
: telah menjadi suratan Fir'aun terkubur takabur
menafikan takdir di tengah laut yang terbelah
sehabis ketukan doa musa bersama takbir
yang menggema

ke mana lagi Musa pergi, selain membelah
gelombang
bersama para syuhada-di sini laut berubah raksasa
melahap apa saja, bagai sihir yang menumpahkan
muntahan air-menghantam beratus ribu pasir
dalam sir
sementara tenggorokan tersekat
bersama waktu
yang sekarat

telah menjadi suratan gelombang bukanlah hujjah
para syuhada hanya hijrah, berjalan di antara
pecahan resah, membius darah-dan tsunami
hanyalah
istilah, pintu hijrah menuju tempat
yang indah
maka,
bangunlah wahai Kekasih Sang Kekasih, sebab
resah
adalah miliknya orang-orang kalah, sebab kecewa
adalah miliknya para pendosa, orang-orang
yang tak mengerti arti mencinta, sebab nada kutuk
adalah miliknya orang-orang yang pintu hatinya tak terketuk

maka,
ke mana lagi musa pergi, bersama umi-bersama abah,
bersama inong-bersama agam, bersama geuchik
bersama teungku meunasah, bersama para syuhada
yang tak mengenal arti lelah
arti menyerah, selain membelah gelombang, menuju Allah
Medan, Februari 2005

Comments

Popular posts from this blog

Puisi Setangkai Melati Untukmu, Guruku