Posts

Showing posts from November, 2024

Puisi Musa yang Membelah Gelombang

  Puisi M. Raudah Jambak (Medan, Sumatera Utara) Musa yang Membelah Gelombang Ke mana lagi musa pergi, selain membelah gelombang dengan tongkat sakti di sini tsunami angkuh berdiri menebar duri, bersama angin yang memburu mengekalkan seringainya dalam bayang-bayang kabut serombongan gagak memburu camar yang terbang gontai, perlahan mengintai sementara pepohonan tafakur, mengucap syukur lalu membanjiri derail zikir : telah menjadi suratan Fir'aun terkubur takabur menafikan takdir di tengah laut yang terbelah sehabis ketukan doa musa bersama takbir yang menggema ke mana lagi Musa pergi, selain membelah gelombang bersama para syuhada-di sini laut berubah raksasa melahap apa saja, bagai sihir yang menumpahkan muntahan air-menghantam beratus ribu pasir dalam sir sementara tenggorokan tersekat bersama waktu yang sekarat telah menjadi suratan gelombang bukanlah hujjah para syuhada hanya hijrah, berjalan di antara pecahan resah, membius darah-dan tsunami hanyalah istilah, pintu hijrah menu...

Puisi-Puisi M. Raudah Jambak

  INDONESIA, MERAH-PUTIHKU Indonesia, Indonesia di negeri ini aku dilahirkan di negeri ini aku dibesarkan di negeri ini aku menggapai segala impian segala harapan segala cita dan cinta Indonesia, Indonesia engkau adalah taman terindah ibu yang paling ramah, penuh kasih dan sayang dalam suka maupun duka Indonesia, Indonesia adalah do’a-do’a hikmat sebelum tidur, adalah gula dalam setiap makanan maupun manisan adalah cahaya penerang segala terang maupun yang kabur adalah puncak segala warna dalam lukisan dan racik tenunan Indonesia, Indonesia laksana obat penghilang perih luka-luka tilam paling nyaman setiap ketentraman berdiam danau tempat membasuh tumpukan-tumpukan duka dan senyuman dalam mata paling nyalang atau sebenam pejam Indonesia, Indonesia barisan semangat sepanjang carnaval anak-anak yang berlari riang sepanjang jermal kekasih segala pujaan, membenam segala gombal Indonesia, Indonesia merah darahku putih tulangku di tubuhku kita menyatu padu medan, 10-12 MENJAGA INDONESIA ...

Puisi Sajak Sayang Na Sipuang

 <div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"> <b>SAJAK SAYANG NA SIPUANG</b><br /> <br /> tetabuh gonrang sipitu-pitu, pada mandiguri<br /> tetabuh gonrang sidua-dua, pada mangililiki<br /> kami gualkan<br /> kami tarikan<br /> untukmu kekasih hati<br /> o, na sipuang, na sipuang<br /> (onaha... i huda-hudai do namatei...)<br /> engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan kasih<br /> engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan sayang<br /> melalui kibasan enggang doa-doa dilayangkan<br /> melalui hembusan angin harapan diterbangkan<br /> adakah lebih indah dari cinta seorang ibu<br /> sejak kandungan harapan ditasbihkan<br /> setelah lahir kasih mengalir seperti air<br /> ketika dewasa menggudang segala cita<br /> o, na sipuang, na sipuang<br /> (sonaha...i toping-toping do namatei...)<br /> ditalun-talun kisahmu te...

Puisi Lelaki Tua Di Tengah Danau

 SAJAK M. RAUDAH JAMBAK Lelaki Tua Di Tengah Danau O, Batara Guru…. Telah kubuat tuah ni gondang Dengan tujuh kali putaran Dari gondang mula-mula Somba-somba maupun liat-liat Angin mengelus, air mengalir Pada danau segala desau Adakah rahasia pada segala Atau hati sembunyikan misteri Padamu, padaku, atau pada kita O, Batara Guru…. Telah kulakukan mangase homban Agar senang si Boru Saniang Naga Agar senang si Boru Deak Parujar Agar terjaga tanah negeri kami Riak-riak menciptakan irama Para bocah yang berebut mencapai dasar Ah, adakah rindu masih terpaut Atau dendam masih tersudut Padamu, padaku, atau pada kita O, Batara Guru…. Sampaikan kepada Ompu Mulajadi Nabolon Jagalah Bona Ni Pasa segala suka Jagalah Bona Pasogit segala cita Jagalah hati kami dari segala angkara Menarilah dengan penuh sukacita Bernyanyilah dengan segala keindahan nada Angin akan membawa kabar berita Air akan menyatukan segala cinta Padamu, padaku, atau pada kita 13-20

Puisi Lelaki Tua Di Simpang Raya

 Lelaki Tua Di Simpang Raya Karya : Raudah Jambak Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang sepi Tubuhnya mematung membeku detik-detik pagi Menyimpan dingin embun-embun tiang besi Sementara lampu merah, kuning, hijau Terus berganti Orang-orang masih bergelut mimpi Di kamar-kamar yang menyelipkan lemari besi Pada sudut-sudut tersembunyi diawasi CCTV Memerdekakan diri, memanjakan hati Lelaki tua itu pernah membingkai cita-cita Membangun tangga sejahtera untuk keluarga Berbahagia di dunia, sejati di surga Mencatat euphoria masa ke masa Receh itukah suara riangnya Menahan loncatan kosa kata-kata Berhamburan dari jendela mobil Yang tak jua terbuka Atau deru knalpot memekakkan Rasa merdeka entah di mana Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang hati Do’anya seakan habis kehilangan cahaya matahari Mengarahkan sepanjang perjalanan menuju Tuhan Di sinilah ia bertahan Menghirup debu jalanan Dan hujan  kehilangan pesan 20-13

PUISI ORKES IRAMA TAK BERATURAN

 ORKES IRAMA TAK BERATURAN M. RAUDAH JAMBAK Dung tak dung dung tak tak Dung tak dung dung tak Zapin menari pada pentas hati Ditingkahi tatap mata penonton paling sunyi Adakah yang lebih semai dari pola lantai  Pada hentakan kaki berderai? Dung tak dung dung tak tak Dung tak dung dung tak Mungkin karena aku yang acap menyulam lupa Hingga terasa hentakan langkah kita tak sama Padahal kita telah sepakat kerdip mata Dan goyangan kepala  sebagai ketukan  tanda Dung tak dung dung tak tak Dung tak dung dung tak Entahlah, apa karena keahlianmu berimprovisasi Atau aku yang mengambil kesimpulan terlalu dini Kau ke kiri aku ke kiri, kau ke kanan aku ke kanan Kita pegang erat ijab-kabul segala kesepakatan Dung tak dung dung tak tak Dung tak dung dung tak Ayo menari, ayo menyanyi Sampai berhenti pada irama paling sunyi Dung tak dung dung tak tak Dung tak dung dung tak OKT, 2012

Puisi Setangkai Melati Untukmu, Guruku

 Setangkai  Melati  Untukmu, Guruku Karya :  Muhammad Raudah Jambak Setangkai melati untukmu guruku Kuambil dari perjalanan dekat  Tapi sulit kudapat Semua begitu gelap Walau lentera tertancap huruf dan angka-angka Penunjuk arah Merobah sejarah  Setangkai melati untukmu, guruku Sebagai buah tangan dari tugas Tanpa pamrih yang kau berikan Batu hitam kini kau rubah jadi buku Begitu kelam alat tulis masa lalu Namun semangatmu tak pernah beku  Buah ilmu dari pohon semangat Yang kau tanam telah membuahkan Kesuksesan muridmu menghias zaman Membangun peninggalan Meninggalkan penjara kebodohan Dari perjuangan telah membebaskan muridmu   Dari batu-batu, bisu dan kaku  Tak ada kelebihan dari hidup Yang kau jalankan Kau tetap melangkah tegas ke medan tugas Dengan hati nyaman, tentram Demi mendidik muridmu Yang menganggapmu kolot dan ketinggalan zaman Tapi itu tak kau perdulikan Setangkai melati untukmu, guruku yang putih bersih seputih salju Dan se...

PUISI DO'A SEORANG GURU UNTUK MURID-MURIDNYA

 DO'A SEORANG GURU UNTUK MURID-MURIDNYA  Karya : Raudah Jambak  Tuhan, Dengan bias  sebatang lilin ini  Aku hanya berharap  jangan padamkan Cahaya  dalam hati kami  Walau rekening sujud  belum sempat Terbayarkan  Tuhan, aku berharap  Jangan putus aliran rahman  dan rahim-Mu  Di rumah cinta kami  Atau jangan bebankan  bea denda dosa Yang berlebih  pada tagihan karat hati kami  Sebab, kami masih punya generasi  penerus negri ini  Yang perlu disuguhi  saluran kasih jiwa  Pada televisi pencerahan  Atau rice-cooker ketabahan  serta rekening ilmu  tak berkesudahan  Tuhan , Dengan bias  sebatang lilin ini  Terangkanlah jiwa-jiwa  yang gelisah  Dari hati dan pikiran  yang disumbat kegelapan.  Perkenankanlah  Keinginan kami Amin Medan, 2000

PUISI MENJADI BARU KARENA MU, GURU

 MENJADI BARU KARENA MU, GURU  Karya : M. RAUDAH JAMBAK  Bukan tanpa sebab, maka huruf menjelma kata Bukan tanpa sebab, maka kata menjelma kalimat Bukan tanpa sebab, kalimat menjelma maklumat  menjadi bahasa antara kami dan engkau, guru  segalanya menjadi baru Lihatlah,  Adakah yang lebih mulia dari sekumpulan intan atau berlian  dibandingkan dari ketulusanmu membimbing kami  menyulam huruf dan kata, merangkai kalimat  dan bahasa?  Dihadapanmu kami bersaksi dan kami tak pernah mengeram sangsi Bukan tanpa sebab, angka bertambah  Bukan tanpa sebab, angka berkali  Bukan tanpa sebab, angka menjelma  dalam rumus kimia atau fisika  menjadi semesta fikir kita, guru  segalanya menjadi baru Lihatlah,  Adakah yang lebih luas dari samudera dan mayapada,  selain keluasan hatimu yang terang benderang  penuh cahaya dalam keikhlasan tak terhingga?  Dihadapanmu kami bersaksi dan kami tak pernah  mengeram...