CUPLIKAN HALAMAN 108 Antologi Puisi Serumpun (ASEAN)
108
Lelaki Tua di Simpang Raya
M. Raudah Jambak
Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang sepi
Tubuhnya mematung membeku detik-detik pagi
Menyimpan dingin embun-embun tiang besi
Sementara lampu merah, kuning, hijau
Terus berganti
Orang-orang masih bergelut mimpi
Di kamar-kamar yang menyelipkan lemari besi
Pada sudut-sudut tersembunyi diawasi CCTV
Memerdekakan diri, memanjakan hati
Lelaki tua itu pernah membingkai cita-cita
Membangun tangga sejahtera untuk keluarga
Berbahagia di dunia, sejati di surga
Mencatat europhia masa ke masa
Receh itukah suara riangnya
Menahan loncatan kosa kata-kata
Berhamburan dari jendela mobil
Yang tak jua terbuka
Atau deru knalpot memekakkan
Rasa merdeka entah di mana
Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang hati
Doanya seakan habis kehilangan cahaya matahari
Mengarahkan sepanjang perjalanan menuju Tuhan
Di sinilah ia bertahan
Menghirup debu jalanan
Dan hujan kehilangan pesan
20-13
Portibi
M. Raudah Jambak
sesekali kutelusuri bilik sempit
sudut kusam, cagar sejarah
dan relief dingin memaknai kediamanmu
yang berdebu dan gosong pengetahuan
tak ada catatan yang tertinggal
selain kegalauan merubung dada
dan kanak berebut benang putus layang
serta sorak kegembiraan yang menyusup
di dinding-dinding senyap
13-20
Sajak Sayang Na Sipuang
M. Raudah Jambak
Tetabuh gonrang sipitu-pitu, Pada mandiguri
Tetabuh gonrang sidua-dua, Pada mangililiki
Kami gualkan
Kami tarikan
Untukmu kekasih hati
O, Na sipuang, Na sipuang
(Sonaha ... i huda-hudai do namatei ....)
Engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan kasih
Engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan sayang
Melalui kibasan enggang doa-doa dilayangkan
Melalui hembusan angin harapan diterbangkan
Adakah yang lebih indah dari cinta seorang ibu
Sejak kandungan harapan ditasbihkan
Setelah lahir kasih mengalir seperti air
Ketika dewasa menggudang segala cita
O, Na sipuang, Na sipuang
(Sonaha ... i toping-toping do namatei ....)
Ditalun-talun kisahmu tersiar
Ditalun-talun kisahmu terkabar
Di tanah ini kami mengobar mandillo tonduy
Di tanah ini kami senandungkan urdo-urdo i
Adakah yang lebih sedih dari tetes tangis ibu
Yang tak sempat tasbihkan harapan
Yang tak sempat mengalirkan kasih
Yang tak sempat membaca cita-cita
O, Na sipuang, na sipuang
Kami tabuh gonrang
Demi menjeput
Segala riang
Tetabuh gonrang sipitu-pitu, Pada mandiguri
Tetabuh gonrang sidua-dua, Pada mangililiki
Kami gualkan
Kami tarikan
Untukmu kekasih hati
Komunitas home poetry, 06-12-20
Profil Singkat Raudah Jambak
M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Beberapa karyanya masuk dalam beberapa antologi, seperti Tanah Pilih (antologi puisi Temu Sastrawan Indonesia I, Jambi) dan Jalan Menikung ke Bukit Timah (antologi cerpen Temu Sastrawan Indonesia II, Bangkabelitung), Pulau Marwah (TSI Tanjung Pinang), Akulah Musi (Temu Penyair Nusantara, Palembang). Sinetron, Film, maupun IKLAN. Kegiatan yang di kuti selain di Medan-Sumatera Utara, PEKSIMINAS III di TIM Jakarta (1995), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif Gedung Kesenian Jakarta Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki, Panggung Idrus Tintin, Riau, Taman Budaya Banda Aceh, Taman Budaya Lampung, Solo, Panggung Penyair Se-Asia Tenggara, Tanjung Pinang, dll. Karyanya selain di Medan juga pernah dimuat di Surat Kabar/Majalah Nasional/buku di Malaysia, Radio Nederland, Cyber sastra, dll. Sering menjuarai berbagai lomba selain lomba baca/cipta puisi,cerpen, lawak, dongeng, proklamasi dan juga Teater lokal, nasional maupun Asia tenggara. Tarung Penyair Asia Tenggara dinobatkan sebagai unggulan I. Termasuk lima besar Lomba Cipta Puisi Nasional, Bentara Bali Post. Selain masuk sebagai pengurus di beberapa organisasi seni, sastra dan budaya, ia aktif juga dalam kegiatan lainnya termasuk dunia politik. Sering didaulat sebagai Sutradara, juri dan pembicara, atau narasumber terkait. Terakhir mengikuti Temu Sastrawan Nusantara, di Pasaman (2019). Terlibat di Festival Sastera Internasional Gunung Bintan ( FSIGB ) 2020. Temu Penyair, Bengkulu (2021). Temu Sastrawan , Singapura (2022), Workshop Pantun Pelajar, 2023. Temu Penyair Asia, Padang Panjang, 2024. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, juga sebagai Koordinator Omong- Omong Sastra Sumatera Utara (2010-2015 )dan Direktur di Komunitas Home Poetry.
Alamat kontak-Taman Budaya SumateraUtara, Jl.Perintis
Kemerdekaan No. 33 Medan.
HP. 0813
Mail:
mraudahjambak@gmail.com,
raudahjambak5@gmail.com,
mraudahjambak@yahoo.com
Comments
Post a Comment