PUISI BENCANA RAUDAH JAMBAK
Sajak-Sajak M. Raudah Jambak Syuhada yang Berkendara Gempa Hari ini dan kemarin adalah hari esok jalan kita menuju pintupintu surga masuklah segera gempa adalah sampan sajadahmu yang paling gempita para syuhada naiklah segera maka, pada hari ini aku hanya bisa menabur doadoa pada nisanmu yang entah tertanam di bumi yang mana Tujuh Koma Enam Tujuh koma enam dinding itupun luluh lantak selantak dadaku yang perih, seperih jeritan anak-anak di bangsi takpun bisa kuehentikan debar dadaku ini meski sekejap gelap mata yang merembeskan butiran kecemasan kepadamu aku katakan, akan kubangun dinding baru di dadamu dari padat batu yang masih tersimpan di bara dadaku maka, terimalah Dari Sebuah Wasiat Singkat Aku kehilangan kata-kata ketika kau wasiatkan berjuta kata yang tak sempat kusimpan yang kau kirimkan dari sebuah pesan pilu hatiku menyimpan lemari kata-katamu yang terbenam batu-batu sepenuh gunung debu memadat, memekat dan dari sebuah wasiat singkat yang kau amanatkan akan kukirimkan ...