Posts

Showing posts from September, 2024

PUISI BENCANA RAUDAH JAMBAK

  Sajak-Sajak M. Raudah Jambak Syuhada yang Berkendara Gempa Hari ini dan kemarin adalah hari esok jalan kita menuju pintupintu surga masuklah segera gempa adalah sampan sajadahmu yang paling gempita para syuhada naiklah segera maka, pada hari ini aku hanya bisa menabur doadoa pada nisanmu yang entah tertanam di bumi yang mana Tujuh Koma Enam Tujuh koma enam dinding itupun luluh lantak selantak dadaku yang perih, seperih jeritan anak-anak di bangsi takpun bisa kuehentikan debar dadaku ini meski sekejap gelap mata yang merembeskan butiran kecemasan kepadamu aku katakan, akan kubangun dinding baru di dadamu dari padat batu yang masih tersimpan di bara dadaku maka, terimalah Dari Sebuah Wasiat Singkat Aku kehilangan kata-kata ketika kau wasiatkan berjuta kata yang tak sempat kusimpan yang kau kirimkan dari sebuah pesan pilu hatiku menyimpan lemari kata-katamu yang terbenam batu-batu sepenuh gunung debu memadat, memekat dan dari sebuah wasiat singkat yang kau amanatkan akan kukirimkan ...

CERPEN RAUDAH JAMBAK SURAU DI SEBELAH MESJID

Cerpen M. Raudah Jambak Surau di Sebelah Mesjid        Lelaki yang berdiri antara rumah dan mimbarnya pada taman, di antara taman-taman di surga. Berdiri atas gundukan tanah bersandar pada sebatang pohon kurma yang menangis menyaksikannya naik ke atas mimbar dari kayu. Laksana unta yang menangis kehilangan anaknya. Lalu lelaki itu memeluknya dan berkata,"mana yang kau pilih, hidup subur dan rimbun atau menjadi pohonan surga?" Lelaki itu lalu me-nguburnya di bawah mimbar empat tingkat yang kemudian menjadi puing di peti mati. Hanya tercium aroma wewangi. * * *        Malam ini surau begitu sepi. Cuma diterangi sebatang lilin yang hampir padam dihembus angin malam. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga. Subuh masih lama. Lelaki itu baru saja mengambil wudhu. Sebelumnya, ia tersentak bangun. Mimpi itu datang lagi. Tentang seorang lelaki berwajah suci yang tengah memeluk sebatang pohon kurma.       Segera ia berdiri lurus ke arah kibl...

(pilihan Naskah lomba monolog nasional) Tumor karya M. Raudah Jambak

 MONOLOG - T-U-M-O-R NASKAH : RAUDAH JAMBAK PENTAS BISA DIMANA SAJA. BISA MENGGAMBARKAN APA SAJA. LAMPU BRMAIN SUASANA. MUSIK BERMAIN SITUASI. TERSERAH. TAPI YANG JELAS SEORANG LELAKI TERLIHAT SIBUK. DENGAN BERPAKAIAN YANG TERSERAH. MEMBOLAK-BALIKKAN LEMBAR KORAN. SEOLAH MENCARI SESUATU. MEMBUKA HALAMAN DEMI HALAMAN BUKU. MENCARI DI FILE KOMPUTER. MENULISKAN SESUATU DIKERTAS. MEMBUANGNYA. MENULIS SESUATU DI KERTAS, LALU MEROBEK-ROBEKNYA. MENGACAK-ACAK RAMBUT. MENYERUPUT KOPI. KEMUDIAN MENGAMBIL SEBATANG ROKOK. MENYALAKANNYA. MENGHISAPNYA DALAM-DALAM. PENUH KENIKMATAN.             LELAKI ITU TIDAK BERAPA LAMA BERGERAK MONDAR-MANDIR SEOLAH SEDANG MENCARI INSPIRASI BARU DAN TERKEJUT KETIKA IA MENGINJAK SESUATU DAN TERPELESET. Aduh....! sialan ! Siapa yang membuah sampah sembarangn ! Binatang ! Jin tanah, jin api, jin air, jin udara. Jin segala jin ! Setan ! Sumpah ! Eh, maaf. Ada kalian. Dan mumpung ada kalian, aku mau bertanya. A...

“Antologi Puisi Kopi Penyair Dunia” Peserta Terbanyak dalam Penerbitan Antologi Puisi di Indonesia

  Takengon__Selama tiga hari setelah penerimaan naskah Antologi Puisi Kopi Penyair Dunia (APKPD) ditutup 23/10/2016, panitia mengumpulkan naskah puisi, memferivikasi dan pemeriksaan naskah yang dikirim oleh penyair dari berbagai negara dan sebagian besar penyair Indonesia. Akhirnya Rabu 26/10/2016, penyair beserta naskahnya final dikumpulkan dan dipublikasikan di media. Sebagaimana berita sebelumnya naskah yang diterima panitia 1.526 naskah puisi dari 572 penyair, jumlah ini diferivikasi balik oleh panitia karena ada penambahan menjadi 579 penyair 1.736 judul puisi yang masuk akan dikurasi oleh Fikar W Eda, Mustafa Ismail dan Salman Yoga S. Salman Yoga menyampaikan, dari hamparan 100.000 hektar lebih kebun kopi Gayo, bening air danau Lut Tawar Kota Takengon Aceh Tengah dengan ratusan puncak-puncak gunung yang menyejukkan sepanjang bukit barisan, kami menyampaikan terimakasih kepada seluruh penyair yang telah berpartisipasi mengirimkan karyanya ke even ANTOLOGI PUISI KOPI PENYAIR DU...

CUPLIKAN HALAMAN 108 Antologi Puisi Serumpun (ASEAN)

  108 Lelaki Tua di Simpang Raya M. Raudah Jambak Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang sepi Tubuhnya mematung membeku detik-detik pagi Menyimpan dingin embun-embun tiang besi Sementara lampu merah, kuning, hijau Terus berganti Orang-orang masih bergelut mimpi Di kamar-kamar yang menyelipkan lemari besi Pada sudut-sudut tersembunyi diawasi CCTV Memerdekakan diri, memanjakan hati Lelaki tua itu pernah membingkai cita-cita Membangun tangga sejahtera untuk keluarga Berbahagia di dunia, sejati di surga Mencatat europhia masa ke masa Receh itukah suara riangnya Menahan loncatan kosa kata-kata Berhamburan dari jendela mobil Yang tak jua terbuka Atau deru knalpot memekakkan Rasa merdeka entah di mana Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang hati Doanya seakan habis kehilangan cahaya matahari Mengarahkan sepanjang perjalanan menuju Tuhan Di sinilah ia bertahan Menghirup debu jalanan Dan hujan kehilangan pesan 20-13 Portibi M. Raudah Jambak sesekali kutelusuri bilik sempit su...