Analisis Puisi "Seratus Untai Biji Tasbih" Karya Raudah Jambak dengan Pendekatan Pragmatik
- Get link
- X
- Other Apps
Nurul Aisyah Syahkila1 Sabrina Pramesuary Dwi Nanda2 Tia Maharani3 Safinatul
Hasanah Harahap4
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Medan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia1,2,3
Email: nurulaisyahsyahkila05@gmail.com1 spramesuary@gmail.com2
tiamaharani79@gmail.com3 finahrp@gmail.com4
Abstrak
Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sering mengandung makna yang kompleks dan
multidimensi. Untuk memahami makna dalam puisi secara mendalam dan komprehensif, diperlukan
pendekatan yang tepat. Pendekatan pragmatik merupakan salah satu pendekatan yang relevan karena
mampu mengungkap makna dengan mempertimbangkan berbagai aspek kontekstual seperti latar
belakang sosial budaya pengarang dan keadaan masyarakat sezamannya. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis puisi berjudul "Seratus Untai Biji Tasbih" karya penyair wanita kontemporer Indonesia
bernama Raudah Jambak dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Puisi ini dipilih karena dinilai
memiliki nuansa keagamaan yang mendalam dan menarik untuk diteliti lebih jauh maknanya. Melalui
teknik analisis isi, penelitian ini menguraikan tiga aspek utama yaitu makna yang terkandung, konteks
sosial budaya penyair, serta tujuan penyair menciptakan puisi. Hasilnya menunjukkan bahwa puisi
tersebut secara bermakna menggambarkan perjalanan spiritual sang penyair mendekatkan diri kepada
Tuhan melalui berbagai upaya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih
luas dan mendalam tentang puisi serta manfaat pendekatan pragmatik dalam menganalisis karya
sastra.
Kata Kunci: Puisi, Pendekatan Pragmatik, Makna, Konteks Sosial Budaya, Tujuan Pengarang, Analisis
Isi, Perjalanan Spiritual, Penyair Wanita Kontemporer, Raudah Jambak, Puisi "Seratus Untai Biji Tasbih"
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
PENDAHULUAN
Puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair
secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan
pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya (Pradopo, 2010). Melalui puisinya,
seorang penyair menuangkan ide, gagasan, dan pesan yang ingin disampaikan kepada
pembaca. Pesan-pesan inilah yang kemudian dapat ditelaah dan dianalisis maknanya
menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya pendekatan pragmatik. Pragmatik pada
dasarnya mempelajari makna tuturan yang dikaitkan dengan situasi ujar atau konteks tutur.
Konteks tutur meliputi penutur, lawan tutur, latar, tujuan tuturan, dan sebagainya (Rahardi,
2005). Dengan kata lain, pragmatik lebih memfokuskan kajiannya pada makna dalam
hubungannya dengan para pelaku tutur, bukan hanya makna secara linguistik murni.
Pendekatan ini sangat tepat digunakan dalam mengupas dan memahami karya sastra seperti
puisi karena dapat menyingkap makna yang lebih dalam dan luas.
Salah satu puisi kontemporer yang menarik untuk ditelaah dengan pendekatan pragmatik
adalah puisi berjudul “Seratus Untai Biji Tasbih” karya Raudah Jambak. Raudah Jambak adalah
salah seorang penyair perempuan Indonesia yang cukup produktif dalam berkarya. Beberapa
karyanya yang pernah dimuat di berbagai media massa antara lain puisi, cerpen, dan esai
(Atmazaki, 2005). Raudah dikenal dengan gaya bahasanya yang indah, metafora yang segar,
IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research
E-ISSN: 3025-2393 P-ISSN: 3025-2385
Vol. 2 No. 1 Januari 2024
Nurul Aisyah Syahkila, dkk. – Universitas Negeri Medan 321
dan pesan yang mendalam di balik kata-katanya. Puisi “Seratus Untai Biji Tasbih” ini menarik
untuk dikaji lebih dalam maknanya menggunakan pendekatan pragmatik, terutama dari aspek
makna laknat, hubungan penutur dan lawan tutur, serta tujuan penyair di balik penciptaan
puisinya. Berbagai makna tersirat yang melibatkan konteks tertentu dapat dibongkar dan
dijabarkan melalui pendekatan ini. Dengan demikian, diharapkan dapat diperoleh
pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai maksud, pesan, dan tujuan sang penyair dalam
menciptakan karyanya.
Rumusan Masalah
Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra tidak hanya mengandung nilai estetika
semata, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam. Di balik diksi, majas, dan pilihan
kata yang indah, seorang penyair menuangkan gagasan, pesan, dan kritik sosial yang ingin
disampaikan kepada pembaca dan masyarakat. Menyingkap berbagai makna tersirat dalam
sebuah puisi tentu membutuhkan analisis mendalam dengan pendekatan-pendekatan tertentu,
seperti pendekatan pragmatik. Puisi “Seratus Untai Biji Tasbih” karya Raudah Jambak dipilih
sebagai objek kajian pada penelitian ini karena dianggap menarik dan representatif untuk
dikupas maknanya melalui pendekatan pragmatik. Beberapa permasalahan yang ingin
dikemukakan dan dijawab melalui penelitian ini antara lain: (1) Bagaimana makna laknat yang
terkandung dalam puisi “Seratus Untai Biji Tasbih” ditinjau dari sudut pandang pragmatik?; (2)
Bagaimana wujud dan makna implisit hubungan spesifik antara penutur dan lawan tutur yang
terbangun pada puisi ini?; (3) Apa sesungguhnya tujuan dan aksi sang pengarang di balik
penciptaan puisi “Seratus Untai Biji Tasbih” ini? Penelitian ini diharapkan dapat menjawab
permasalahan-permasalahan tersebut dan menyingkap makna pragmatik yang terkandung
dalam puisi karya Raudah Jambak ini secara komprehensif.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah: Mendeskripsikan dan menganalisis
makna laknat yang terkandung dalam puisi “Seratus Untai Biji Tasbih” karya Raudah Jambak
ditinjau dari sudut pandang dan pendekatan pragmatik. Menjelaskan wujud dan makna
hubungan spesifik antara penutur dan lawan tutur yang terbangun pada puisi “Seratus Untai
Biji Tasbih”. Mengetahui tujuan dan aksi sang pengarang di balik penciptaan puisi “Seratus
Untai Biji Tasbih” melalui analisis pragmatik. Secara umum, penelitian ini bertujuan
memberikan gambaran penerapan pendekatan pragmatik dalam mengupas makna sebuah
puisi secara mendalam dan komprehensif.
Tinjauan Pustaka
Pengertian Pragmatik
Pragmatik secara sederhana dapat diartikan sebagai studi tentang maksud
penutur/penulis. Secara terminologis, pragmatik didefinisikan oleh Yule (2014) sebagai studi
mengenai makna kontekstual, yaitu makna yang disampaikan oleh penutur/penulis dan
ditafsirkan oleh pendengar/pembaca. Dengan kata lain, kajian utama pragmatik adalah makna
yang dikaitkan dengan situasi ujar atau konteks tutur. Levinson (2019) menjabarkan definisi
pragmatik sebagai kajian struktur bahasa yang memungkinkan peserta tutur mengalirkan dan
memahami intended meaning atau maksud yang dimaksud oleh lawan bicaranya. Intended
meaning inilah yang kemudian menjadi fokus kajian pragmatik, yaitu bagaimana satuan-satuan
bahasa digunakan dalam berkomunikasi sesuai konteks dan situasi tertentu. Dalam kaitannya
dengan karya sastra seperti puisi, pendekatan pragmatik bermanfaat untuk mengungkap
maksud penyair yang sebenarnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Wellek dan Warren (2016),
pendekatan ini memandang karya sastra, termasuk puisi, sebagai suatu bentuk interaksi.
IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research
E-ISSN: 3025-2393 P-ISSN: 3025-2385
Vol. 2 No. 1 Januari 2024
Nurul Aisyah Syahkila, dkk. – Universitas Negeri Medan 322
Dengan kata lain, terjadi hubungan antara pembaca dan penyair meskipun secara tidak
langsung. Analisis pragmatik kemudian berupaya menginterpretasikan karya sastra tersebut
sesuai situasi dan latar belakang penyairnya. Berdasarkan uraian tentang pragmatik dari
beberapa pakar tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pragmatik bermanfaat untuk
menganalisis makna puisi, termasuk maksud dan tujuan sang penyair, dengan
mempertimbangkan konteks sosial budaya dan situasi tertentu di sekitar penciptaan puisi
tersebut. Interpretasi makna menjadi lebih luas dan mendalam.
Unsur-unsur pragmatik yang dikaji
Dalam bukunya Speech Acts in Literature, Buttler (2021) menjelaskan terdapat
setidaknya tiga unsur pragmatik yang dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra,
khususnya puisi, yaitu: makna, konteks, dan tujuan tuturan. Makna merujuk pada interpretasi
atau pemahaman pembaca terhadap teks sastra. Konteks meliputi latar belakang historis,
budaya, situasi pengarang dan pembaca. Sedangkan tujuan tuturan berkaitan dengan maksud
dan fungsi teks sastra diciptakan. Lebih lanjut, Nurgiyantoro (2018) dalam bukunya Stilistika
mengemukakan unsur pragmatik dapat diterapkan dalam menganalisis gaya bahasa, metafora,
majas, dan aspek kebahasaan lainnya yang digunakan penyair dalam puisinya. Semua aspek
bahasa tersebut dikaji dalam kaitannya dengan konteks sosial dan budaya penyair serta tujuan
penciptaan puisinya, sehingga maknanya menjadi lebih kompleks dan multidimensi. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur pragmatik yang akan digunakan untuk
mengkaji puisi “Seratus Untai Biji Tasbih” karya Raudah Jambak dalam penelitian ini adalah:
(1) Makna, mencakup makna literal, makna konotatif, makna implisit yang terkandung dalam
puisi; (2) Konteks, meliputi latar belakang sosial-budaya penyair dan kondisi sosial masyarakat
sezamannya; (3) Tujuan tuturan, yakni maksud, pesan, dan kritik sosial yang ingin disampaikan
Raudah Jambak lewat puisi tersebut. Ketiga unsur pragmatik ini diharapkan dapat
membongkar makna puisi secara menyeluruh dan mewakili sudut pandang sang penyairnya
sendiri. Interpretasi makna menjadi lebih luas dan objektif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis isi
(content analysis). Analisis isi merupakan teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi
yang dapat ditiru (replicable) dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya
(Krippendorff, 2004). Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan memahami
dan menafsirkan makna puisi secara mendalam, bukan sekadar mengukur atau menguji
hipotesis tertentu. Sumber data pada penelitian ini adalah puisi “Seratus Untai Biji Tasbih”
karya Raudah Jambak yang dipublikasikan pertama kali pada situs web resmi penyair. Teks
puisi tersebut kemudian dianalisis konten dan maknanya dengan pendekatan pragmatik.
Teknik analisis data yang digunakan adalah model interaktif (Miles dan Huberman, 2014)
melalui tahapan: (1) Pengumpulan data; (2) Reduksi data; (3) Penyajian data; (4) Penarikan
kesimpulan dan verifikasi. Data-data berupa kata, frasa, kalimat dari puisi yang mengandung
makna pragmatik diklasifikasi, direduksi, disajikan, lalu ditafsirkan dan disimpulkan. Dengan
demikian, melalui analisis isi kualitatif model interaktif tersebut, penelitian ini diharapkan
dapat menyajikan hasil analisis pragmatik yang akurat dan mendalam terkait makna, konteks,
serta tujuan penciptaan puisi “Seratus Untai Biji Tasbih” karya Raudah Jambak.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Seratus Untai Biji Tasbih
Telah kurangkai Seratus untai biji tasbih Mengurai Asma–Mu Dalam amalan
Dalam Ilahi anta maksudi Wa ridhoka matlubi
IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research
E-ISSN: 3025-2393 P-ISSN: 3025-2385
Vol. 2 No. 1 Januari 2024
Nurul Aisyah Syahkila, dkk. – Universitas Negeri Medan 323
Telah ku rangkai Seratus untai biji tasbih Telah kurangkai
Tapi gejolak jiwa ini tak mampu jua Menampung tumpahan Kerinduan
Yang membanjiri air mata
Padahal telah ku arungi keluasan Laut semesta-Mu
Padahal telah kukayuh sampan Sejadahku menuju rahmad-Mu
Telah kurangkai Seratus biji tasbih
Bersama takbir Bersama zikir
Bersama air Bersama semilir Bersama musafir Bersama fakir Bersama Allah.
Analisis Konteks Situasi Puisi
Telah kurangkai Seratus untai biji tasbih Mengurai Asma–Mu
Dalam amalan
Dalam Ilahi anta maqsudi Wa ridhoka matlubi
Bait puisi "Telah kurangkai Seratus untai biji tasbih" membawa pembaca ke dalam
suasana keagamaan yang penuh dengan ritual tasbih dan upaya untuk mendekatkan diri pada
Tuhan. Puisi ini secara langsung menciptakan gambaran seratus untai biji tasbih yang diurai
sebagai bentuk penghormatan terhadap "Asma-Mu," merujuk pada nama-nama atau sifat-sifat
Tuhan. Penggunaan kata "Telah kurangkai" menyoroti usaha dan ketekunan penyair dalam
merangkai seratus untai tasbih sebagai wujud pengabdian dan ibadah. Mengurai "Asma-Mu" di
sini menunjukkan ketertarikan penyair pada esensi spiritual dan simbolisme dalam setiap
nama Tuhan yang diucapkan melalui tasbih. Puisi ini mengarahkan perhatian pada praktik
beribadah yang tidak hanya bersifat ritualistik tetapi juga bermakna mendalam, mengingatkan
pembaca akan pentingnya menghargai aspek spiritual dalam setiap tindakan ibadah. Dengan
frasa "Dalam amalan, Dalam Ilahi anta maksudi, Wa ridhoka matlubi," penyair menekankan
bahwa seratus untai biji tasbih bukan hanya sekadar aktivitas rutin, melainkan sebuah amalan
yang dilakukan dengan tujuan tertentu, yaitu mencapai ridha Allah. Frasa ini menyiratkan
konsep pengabdian yang tinggi dan orientasi spiritual yang jelas dalam setiap gerakan tasbih,
menambah dimensi makna dalam tindakan ibadah tersebut. Penggunaan bahasa Arab, seperti
"Ilahi anta maksudi" dan "Wa ridhoka matlubi," tidak hanya memberikan kekayaan linguistik
pada puisi tetapi juga menciptakan aura keagamaan yang lebih dalam. Pilihan kata-kata ini
memberikan nuansa keharusan dan keinginan yang mendalam dalam mencapai tujuan ibadah.
Secara keseluruhan, bait ini memperkenalkan pembaca pada atmosfer keagamaan yang
diwarnai oleh praktik ibadah tasbih, mengajak mereka untuk merenung tentang arti spiritual
di balik setiap gerakan dan kata yang diucapkan. Melalui penggunaan bahasa yang indah dan
penuh makna, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna mendalam dalam
ibadah dan upaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Telah ku rangkai Seratus untai biji tasbih Telah kurangkai
Tapi gejolak jiwa ini tak mampu jua Menampung tumpahan Kerinduan
Yang membanjiri air mata
Dalam bait puisi "Telah ku rangkai Seratus untai biji tasbih, Telah kurangkai," penyair
memperlihatkan upaya yang telah dilakukan dalam merangkai seratus untai biji tasbih sebagai
bentuk ibadah. Penggunaan kata "Telah" mengindikasikan bahwa tindakan tersebut telah
selesai dan dapat dilihat sebagai pencapaian spiritual yang signifikan. Namun, pernyataan
selanjutnya, "Tapi gejolak jiwa ini tak mampu jua," memperkenalkan dimensi internal yang
kompleks. "Gejolak jiwa" merujuk pada ketegangan emosional atau pertentangan batin yang
mungkin dihadapi oleh penyair. Meskipun telah melakukan tindakan ibadah tasbih, keadaan
IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research
E-ISSN: 3025-2393 P-ISSN: 3025-2385
Vol. 2 No. 1 Januari 2024
Nurul Aisyah Syahkila, dkk. – Universitas Negeri Medan 324
jiwa masih belum dapat menampung sepenuhnya tumpahan kerinduan yang membanjiri air
mata. Hal ini menciptakan kontrast antara aktivitas fisik ibadah dan keadaan emosional
internal yang tidak sepenuhnya terpenuhi. Penggunaan kata "tak mampu jua" menekankan
ketidakmampuan jiwa dalam mengatasi atau menampung beban emosional yang sangat kuat.
Ini menimbulkan kesan bahwa, meskipun tindakan ibadah dilakukan, ada perasaan
ketidaksetaraan antara dimensi fisik dan spiritual penyair. Bait tersebut kemudian melibatkan
pembaca dengan menyajikan pengalaman emosional yang mendalam: "Menampung tumpahan
Kerinduan Yang membanjiri air mata." Frasa ini menggambarkan kerinduan sebagai sesuatu
yang meluap-luap, menciptakan citra banjir air mata yang mengalir sebagai ungkapan dari
perasaan yang mendalam dan terdalam. Pemilihan kata-kata ini menciptakan daya ungkap
yang kuat, mengkomunikasikan intensitas perasaan penyair. Secara keseluruhan, bait ini
menyelipkan kerumitan emosional dalam konteks ibadah tasbih. Meskipun seratus untai biji
tasbih telah dirangkai, puisi ini menggarisbawahi bahwa realitas kehidupan spiritual tidak
selalu sejalan dengan ritual fisik semata. Ini mengeksplorasi dimensi psikologis dan emosional
dalam pencarian spiritual, menunjukkan bahwa pencapaian fisik belum tentu mencerminkan
kedamaian batin yang diinginkan.
Padahal telah ku arungi keluasan Laut semesta-Mu
Padahal telah kukayuh sampan Sejadahku menuju rahmad-Mu
Telah kurangkai Seratus biji tasbih
Bersama takbir Bersama zikir Bersama air Bersama semilir Bersama musafir Bersama fakir
Bersama Allah.
Dalam bait puisi "Padahal telah ku arungi keluasan Laut semesta-Mu, Padahal telah
kukayuh sampan Sejadahku menuju rahmad-Mu, Telah kurangkai Seratus biji tasbih, Bersama
takbir Bersama zikir Bersama air Bersama semilir Bersama musafir Bersama fakir Bersama
Allah," penyair memperluas dimensi spiritual dan perjalanan pencarian Tuhan. Pernyataan
"Padahal telah ku arungi keluasan Laut semesta-Mu" menciptakan gambaran metaforis tentang
perjalanan spiritual melintasi lautan yang melambangkan kebesaran Tuhan. Kata-kata ini
menciptakan citra petualangan spiritual yang melibatkan eksplorasi dan pengalaman
mendalam di dalam keberadaan Tuhan yang luas. "Bersama takbir, Bersama zikir, Bersama air,
Bersama semilir" memberikan dimensi sosial dan ritual dalam pencarian spiritual penyair. Puisi
ini merangkum aktivitas keagamaan yang dilakukan bersama-sama, menciptakan citra
kebersamaan dalam beribadah. Pilihan kata-kata ini menunjukkan bahwa ibadah tidak
hanya menjadi pengalaman individual tetapi juga sebuah upaya bersama menuju Tuhan. "Pada
telah kukayuh sampan Sejadahku menuju rahmad-Mu" melibatkan unsur perjalanan fisik dan
spiritual. Menggunakan kata "sampan" menggambarkan perjalanan yang mungkin penuh
tantangan, tetapi yang dilakukan dengan harapan mencapai rahmat Tuhan. Ini menekankan
pada usaha aktif dan dedikasi dalam mencapai tujuan spiritual. Bait terakhir memfokuskan
pada kerangka kebersamaan dalam ibadah, mengulangi frasa "Telah kurangkai" untuk
menegaskan upaya kolektif dalam merangkai seratus biji tasbih bersama-sama. Dengan
menyebutkan "Bersama takbir, Bersama zikir, Bersama air, Bersama semilir, Bersama musafir,
Bersama fakir, Bersama Allah," penyair menunjukkan bahwa ibadah adalah pengalaman
bersama yang melibatkan semua lapisan masyarakat dan menyatukan mereka dalam
penghormatan kepada Tuhan. Secara keseluruhan, bait-bait puisi ini menciptakan sebuah
narasi spiritual yang melibatkan perjalanan fisik dan batin, serta menekankan pada nilai
kebersamaan dalam ibadah. Puisi ini tidak hanya menggambarkan ritual fisik, tetapi juga
menciptakan suasana kebersamaan dan perjalanan spiritual menuju Tuhan.
IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research
E-ISSN: 3025-2393 P-ISSN: 3025-2385
Vol. 2 No. 1 Januari 2024
Nurul Aisyah Syahkila, dkk. – Universitas Negeri Medan 325
Analisis Makna Literal dan Implisit
Bait pertama puisi "Seratus Untai Biji Tasbih" secara literal menggambarkan tindakan
merangkai seratus untai biji tasbih sebagai bentuk ibadah, dengan fokus pada penguraian Asma
Tuhan. Secara implisit, penggunaan kata "Telah kurangkai" mencerminkan dedikasi dan
kesungguhan dalam melibatkan diri dalam praktik keagamaan. Bait kedua, dengan mengulangi
frasa "Telah ku rangkai Seratus untai biji tasbih, Telah kurangkai," menekankan kembali upaya
penyair dalam menjalankan ibadah tasbih. Implisitnya, penggunaan kata "Telah" menunjukkan
perasaan keberhasilan dan pencapaian dalam mengikuti praktik keagamaan tersebut. Bait
ketiga, "Tapi gejolak jiwa ini tak mampu jua," secara literal mengekspresikan ketidakmampuan
jiwa untuk menampung kerinduan, menghasilkan tumpahan air mata. Implisitnya, frasa ini
menyiratkan konflik batin yang mungkin dialami oleh penyair, menyoroti bahwa walaupun
tindakan ibadah dilakukan, tetapi perasaan kerinduan yang dalam tidak selalu dapat diatasi.
Bait keempat dan kelima, "Padahal telah ku arungi keluasan Laut semesta-Mu, Padahal telah
kukayuh sampan Sejadahku menuju rahmad-Mu," secara literal menggambarkan perjalanan
spiritual melintasi lautan Tuhan dan menggunakan sejadah sebagai sarana untuk mencapai
rahmat-Nya. Implisitnya, frasa ini menggambarkan tekad penyair dalam menjalani perjalanan
spiritual yang melibatkan ketekunan dan kesungguhan dalam mencapai tujuan keagamaan.
Bait keenam, "Telah kurangkai Seratus biji tasbih," secara literal mengulangi penyebutan
tindakan merangkai tasbih. Implisitnya, penekanan pada aktivitas tasbih mengindikasikan
pentingnya keberlanjutan dalam amalan keagamaan. Bait terakhir, "Bersama takbir Bersama
zikir Bersama air Bersama semilir Bersama musafir Bersama fakir Bersama Allah," secara literal
menyajikan serangkaian aktivitas keagamaan yang dilakukan bersama-sama. Implisitnya, frasa
ini menyoroti nilai-nilai kebersamaan, kesatuan, dan solidaritas dalam menjalani kehidupan
keagamaan. Secara keseluruhan, puisi ini secara literal menggambarkan serangkaian tindakan
ibadah, sementara secara implisit mengeksplorasi dimensi emosional, konflik batin, dan tekad
spiritual dalam perjalanan keagamaan. Penggunaan metafora dan simbolisme menambah
kedalaman makna, menciptakan lapisan kekayaan makna dalam puisi ini.
Analisis Hubungan antara Pembicara dan Lawan Bicara
Dalam puisi "SERATUS UNTAI BIJI TASBIH," hubungan antara pembicara (penyair) dan
lawan bicara (Tuhan) tercermin melalui penggunaan bahasa, simbolisme, dan perasaan yang
disampaikan. Puisi ini membangun dialog emosional dan spiritual antara penyair dan Tuhan,
menciptakan dinamika yang kompleks dalam pencarian makna kehidupan dan spiritualitas.
Bait pertama mengeksplorasi hubungan penyair dengan Tuhan melalui aktivitas tasbih, yang
dijelaskan sebagai pengurai Asma-Mu. Pembicara (penyair) terlibat dalam tindakan fisik
merangkai seratus untai biji tasbih, yang pada intinya adalah upaya mengungkap dan
memahami sifat-sifat Tuhan (Asma-Mu). Hubungan ini dapat dilihat sebagai usaha penyair
untuk mendekatkan diri pada Tuhan melalui ibadah. Bait selanjutnya menunjukkan kegagalan
penyair dalam menampung gejolak jiwa dan kerinduan yang meluap-luap. Dialog antara
pembicara dan lawan bicara semakin kompleks di sini. Meskipun telah melakukan ritual
ibadah, penyair menggambarkan ketidakmampuan jiwa untuk sepenuhnya meresapi dan
menyatu dengan makna ibadah tersebut. Lawan bicara, dalam hal ini Tuhan, menjadi saksi dari
perjuangan emosional penyair. Bait-bait berikutnya mengeksplorasi perjalanan spiritual
penyair dalam mencapai pemahaman yang lebih dalam terhadap Tuhan. Perumpamaan
melintasi "keluasan Laut semesta-Mu" dan menyusuri lautan dengan sampan menuju "rahmad-
Mu" menciptakan citra perjalanan fisik dan spiritual yang dihadapi oleh pembicara. Hubungan
ini menjadi semakin personal, mencerminkan keinginan penyair untuk mencapai rahmat dan
pemahaman yang lebih dalam dari Tuhan. Bait terakhir menekankan pada kebersamaan dalam
ibadah, di mana pembicara merangkai seratus biji tasbih bersama-sama dengan berbagai unsur
IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research
E-ISSN: 3025-2393 P-ISSN: 3025-2385
Vol. 2 No. 1 Januari 2024
Nurul Aisyah Syahkila, dkk. – Universitas Negeri Medan 326
seperti takbir, zikir, air, semilir, musafir, fakir, dan Allah. Hubungan dengan Tuhan menjadi
lebih universal dan melibatkan komunitas umat manusia, menciptakan gambaran
kebersamaan dalam pencarian makna spiritual. Secara keseluruhan, puisi ini membangun
narasi yang menyoroti hubungan kompleks antara manusia dan Tuhan, dari upaya individu
dalam ibadah hingga perjalanan spiritual yang lebih luas dan melibatkan komunitas. Dialog ini
menciptakan keseimbangan antara dimensi fisik dan spiritual dalam pencarian makna
kehidupan dan hubungan manusia dengan yang Maha Kuasa.
Analisis tujuan dan aksi sang penulis
Penyair dalam puisi ini dengan jelas mengeksplorasi perjalanan spiritualnya melalui
ajaran agama Islam, khususnya dalam konteks ibadah tasbih. Tujuannya tampaknya adalah
untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan melalui praktik keagamaan yang penuh makna. Bait
pertama, "Telah kurangkai Seratus untai biji tasbih," menunjukkan tujuan awal sang penyair
untuk merangkai seratus untai biji tasbih sebagai bentuk ibadah. Tujuan ini diungkapkan
dengan jelas melalui penggunaan kata "Telah," memberikan kesan bahwa upaya ini bukanlah
sekadar keinginan tetapi sudah diwujudkan. Bait kedua memperkuat ide ibadah tasbih dengan
menguraikan bahwa seratus untai biji tasbih ini adalah usaha untuk "Mengurai Asma–Mu" dan
dijalankan "Dalam amalan, Dalam Ilahi anta maksudi, Wa ridhoka matlubi." Tujuan penyair
tampaknya adalah untuk mengenal dan menghormati sifat-sifat Tuhan, serta mencapai ridha-
Nya melalui tindakan ibadah yang terencana dan bermakna. Bait ketiga menunjukkan hasil dari
usaha tersebut, "Telah ku rangkai Seratus untai biji tasbih, Telah kurangkai." Penyair
mengonfirmasi pencapaian fisik dari ibadah tersebut, menciptakan gambaran tentang seratus
untai tasbih yang terurai sebagai wujud dari dedikasi dan ketekunan spiritual. Namun, bait-bait
berikutnya menghadirkan dimensi emosional dan psikologis penyair. Bait keempat
menyiratkan kegagalan jiwa penyair dalam "Menampung tumpahan Kerinduan Yang membanjiri
air mata." Ini mengungkapkan bahwa, meskipun telah melakukan ibadah secara fisik, ada
ketidakmampuan jiwa dalam menanggapi sepenuhnya beban emosional dan kerinduan yang
ada. Bait-bait selanjutnya, yang merujuk pada usaha merentasi "Laut semesta-Mu" dan
"kukayuh sampan Sejadahku menuju rahmad-Mu," menunjukkan bahwa tujuan spiritual
penyair tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga melibatkan perjalanan batin dan
dedikasi dalam mencapai rahmat Tuhan. Bait terakhir mempertegas gagasan kebersamaan
dalam beribadah. "Telah kurangkai Seratus biji tasbih, Bersama takbir Bersama zikir Bersama
air Bersama semilir Bersama musafir Bersama fakir Bersama Allah," menekankan pentingnya
pengalaman bersama dalam merayakan ketakjuban dan kebesaran Tuhan. Secara keseluruhan,
penyair dengan penuh kesadaran menguraikan perjalanan spiritualnya dari tujuan awal ibadah
fisik hingga pencarian makna yang lebih dalam, mengeksplorasi dimensi emosional dan
batiniah. Puisi ini menciptakan narasi yang kompleks dan mendalam tentang upaya individu
dalam mencapai keseimbangan antara ritual fisik dan keadaan spiritual yang lebih mendalam.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa puisi "Seratus
Untai Biji Tasbih" karya Raudah Jambak memberikan gambaran yang mendalam mengenai
perjalanan spiritual penyair dalam merasakan kerinduan kepada Tuhan. Melalui pilihan kata-
kata dan kalimat yang indah serta metafora-metafora kuat, puisi ini dengan mahir menguraikan
pengalaman emosional penyair dalam mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan, baik
melalui ritual amal ibadah maupun perjalanan batin. Walaupun telah berusaha keras
merangkai seratus untai biji tasbih secara fisik, keinginan dan kerinduan penyair untuk meraih
rahmat Ilahi belum sepenuhnya tersampaikan. Puisi juga menyinggung dimensi psikologis dan
emosional internal penyair yang rumit, menunjukkan bahwa ritual dan amalan semata belum
IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research
E-ISSN: 3025-2393 P-ISSN: 3025-2385
Vol. 2 No. 1 Januari 2024
Nurul Aisyah Syahkila, dkk. – Universitas Negeri Medan 327
cukup untuk mencapai kedamaian spiritual. Melalui penggunaan konteks historis dan budaya
keagamaan sebagai latar belakang, pendekatan pragmatik mampu mengungkap makna
mendalam dan dimensi multidimensi lain dalam puisinya. Penyair juga menekankan nilai
kebersamaan dalam beribadah sebagai upaya bersama untuk meraih kedekatkan dengan
Tuhan. Tujuan utama Raudah Jambak dalam menciptakan puisi ini adalah menyampaikan
pengalaman perjalanan spiritualnya sebagai manusia menuju Tuhan yang rumit namun penuh
harapan, serta mengajak pembaca untuk merenungkan arti sejati dari ibadah dan pencarian
keagamaan. Dengan demikian, penelitian ini berhasil mengungkap makna yang lebih luas dan
mendalam dari puisi melalui analisis pragmatik secara komprehensif.
Saran: Pertama, sangat disarankan bagi pembaca untuk selalu melihat karya sastra
khususnya puisi tidak hanya secara harfiah, namun juga secara kontekstual dan multidimensi
melalui berbagai pendekatan seperti pendekatan pragmatik. Dengan demikian, makna yang
terkandung dalam karya sastra dapat dipahami secara lebih mendalam dan menyeluruh.
Kedua, bagi peneliti atau akademisi sastra, penggunaan pendekatan pragmatik ternyata
mampu mengungkap makna karya sastra secara komprehensif, sehingga pendekatan ini sangat
berguna untuk mengembangkan penelitian sastra ke depannya. Ketiga, hasil penelitian ini
diharapkan dapat memotivasi penelitian lanjutan mengenai kajian makna karya-karya Raudah
Jambak atau penyair kontemporer lainnya dengan pendekatan serupa. Empat, puisi ini dapat
dijadikan bahan ajar humaniora dan keagamaan bagi siswa SMA atau mahasiswa, mengingat
poin-poin pembelajaran yang dapat disampaikan melalui puisinya. Terakhir, hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan rujukan dan masukan bagi praktisi pendidikan, khususnya guru
bahasa dan sastra dalam mengajarkan karya sastra kepada peserta didik dengan pendekatan
multidimensi. Dengan demikian, siswa akan memahami karya sastra secara lebih komprehensif
dan mendalam.
DAFTAR PUSTAKA
Atmazaki. (2005). Ilmu Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Buttler, C. (2021). Speech Acts in Literature. Cambridge: Cambridge University Press.
Krippendorff, K. (2004). Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (2nd ed.).
Levinson, S.C. (2019). Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook (3rd
ed.). Thousand Oaks, CA: Sage.
Nurgiyantoro, B. (2018). Stilistika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pradopo, R.D.
(2010). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rahardi, K. (2005). Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Thousand Oaks, CA: Sage.
Wellek, R. & Warren, A. (2016). Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Yule, G. (2014). Pragmatics. Oxford: Oxford University Press
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment